Beranda / Berita Nasional / Bukan Sekadar Pilih Ketua OSIS, Sulsel Sedang Menyiapkan Generasi Pemilih Masa Depan

Bukan Sekadar Pilih Ketua OSIS, Sulsel Sedang Menyiapkan Generasi Pemilih Masa Depan

Dari Pemilihan Ketua OSIS ke Laboratorium Demokrasi Sulawesi Selatan

Oleh: Nurul Amrah
10 September 2026

Sulawesi Selatan – Demokrasi tidak seharusnya baru dikenal ketika seorang anak menginjak usia 17 tahun, menerima undangan ke TPS, lalu untuk pertama kalinya mencoblos dalam pemilu.

Demokrasi seharusnya dikenalkan jauh sebelumnya. Bahkan, ia bisa dimulai dari ruang yang paling dekat dengan kehidupan seorang pelajar seperti di lingkungan sekolah.

Pemilihan Ketua OSIS secara serentak di sekolah-sekolah tingkat SMA dan SMK se-Sulawesi Selatan karena itu dapat ditempatkan dalam perspektif yang jauh lebih besar.
Ini bukan sekadar agenda rutin pergantian kepemimpinan organisasi siswa.

Jika dirancang dengan tepat melalui kolaborasi KPU Provinsi Sulawesi Selatan dan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, pemilihan Ketua OSIS dapat berubah menjadi laboratorium demokrasi bagi generasi yang kelak menjadi pemilih pemula.

Gagasannya sederhana, tetapi memiliki dampak jangka panjang: “Yang direplikasi bukan KPU-nya, melainkan pengalaman demokrasinya”.

Bukan KPU yang Mengambil Alih

Penting untuk meluruskan satu hal bahwa pogram ini bukan berarti KPU turun ke sekolah untuk mengambil alih penyelenggaraan pemilihan Ketua OSIS. KPU bukan panitia pemilihan di sekolah.

KPU hadir dengan kapasitas dan pengalaman kelembagaannya dalam penyelenggaraan pemilu untuk memberikan edukasi, pendampingan, transfer pengetahuan, sekaligus membantu sekolah mereplikasi tahapan dan nilai-nilai demokrasi dalam lingkungan pendidikan.

Sementara itu, Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan tetap berada pada posisi strategis sesuai kewenangannya dalam pembinaan dan pengelolaan pendidikan, termasuk dalam penyusunan arah serta petunjuk teknis pelaksanaan program.

Di tingkat sekolah, panitia yang dibentuk oleh masing-masing satuan pendidikan tetap menjadi pelaksana teknis pemilihan Ketua OSIS.

Dengan demikian, tidak ada konsep “KPU turun menjadi panitia.”

Justru sebaliknya.
KPU hadir untuk memperkuat kapasitas sekolah agar mampu menyelenggarakan proses demokrasi secara mandiri.

Demokrasi Tidak Cukup Diajarkan di Kelas

Tahapan pemilihan Ketua OSIS dapat mengambil inspirasi dari pengalaman kepemiluan.

Mulai dari pencalonan, penyampaian visi dan misi, kampanye, pengenalan kandidat, pemungutan suara, penghitungan suara, penetapan hasil, hingga belajar menerima dan menghormati hasil pemilihan.

Tentu saja, seluruh proses tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik lingkungan sekolah serta ketentuan yang ditetapkan Dinas Pendidikan dan masing-masing satuan pendidikan.

Di sinilah nilai strategis program ini.

Siswa tidak hanya diberi tahu bahwa demokrasi berarti memilih.

Mereka mengalami sendiri prosesnya.

Mereka belajar bagaimana pilihan dibentuk. Mereka melihat bagaimana kandidat menyampaikan gagasan.

Mereka menyaksikan bagaimana perbedaan pilihan dikelola. Mereka belajar bagaimana suara dihitung dan, yang tak kalah penting, bagaimana sebuah hasil diterima.

Pengalaman seperti itu jauh lebih membekas dibanding sekadar mendengar teori demokrasi di dalam ruang kelas.

Sebab demokrasi pada akhirnya bukan hanya pengetahuan.

Demokrasi adalah kebiasaan, sikap, dan perilaku.

Hari Ini Memilih Ketua OSIS, Besok Memilih Pemimpin Bangsa

Hari ini mereka memilih Ketua OSIS.

Beberapa tahun kemudian, mereka akan berdiri di TPS sebagai pemilih pemula.

Mereka akan berhadapan dengan pilihan politik yang jauh lebih kompleks. Mereka akan menemukan kampanye, visi-misi, perbedaan pilihan, informasi, bahkan perdebatan politik.

Namun, setidaknya mereka tidak benar-benar memulai dari nol.

Mereka sudah pernah merasakan bagaimana memilih berdasarkan visi dan misi. Mereka sudah pernah melihat proses kampanye. Mereka sudah menggunakan hak suara. Mereka sudah menyaksikan penghitungan suara.

Dan yang paling penting, mereka sudah belajar satu pelajaran fundamental dalam demokrasi:

menang bukan satu-satunya tujuan. Menghormati proses dan menerima hasil juga merupakan bagian dari demokrasi.

Inilah pendidikan pemilih yang sesungguhnya.

Sekolah sebagai Laboratorium Demokrasi

Karena itu, kolaborasi KPU Provinsi Sulawesi Selatan dan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan tidak semestinya dipandang hanya sebagai kerja sama penyelenggaraan pemilihan Ketua OSIS.

Lebih jauh dari itu, program ini merupakan investasi pendidikan demokrasi jangka panjang.

Sekolah menjadi laboratoriumnya.

Siswa menjadi pembelajarnya.

Guru dan pihak sekolah menjadi fasilitatornya.

Dinas Pendidikan menjadi penguat ekosistem pendidikannya.

Sementara KPU memberikan pengalaman, pengetahuan, dan perspektif kepemiluan sebagai bagian dari proses pendidikan pemilih yang berkelanjutan.

Dengan desain seperti itu, tujuan akhirnya bukan membuat sekolah bergantung kepada KPU setiap kali melaksanakan pemilihan.

Justru sebaliknya.
KPU hadir hari ini agar sekolah mampu menjalankan nilai-nilai demokrasi secara mandiri di kemudian hari.

Ukuran Keberhasilan Bukan Seberapa Sering KPU Turun ke Sekolah

Ada ukuran keberhasilan yang lebih penting dari sekadar seberapa banyak sekolah yang didampingi atau seberapa sering KPU hadir di lingkungan pendidikan.

Keberhasilan program ini justru terlihat ketika suatu hari para siswa mampu berkata:

“Kami sudah tahu bagaimana demokrasi bekerja, karena kami pernah mempraktikkannya”.

Jika itu terjadi, maka proses pendidikan pemilih sebenarnya telah menemukan fondasinya.

Bukan dimulai di TPS.

Bukan dimulai ketika surat suara berada di tangan.

Tetapi dimulai jauh sebelumnya—di ruang kelas, di halaman sekolah, dalam diskusi antarsiswa, dalam kampanye calon Ketua OSIS, hingga di bilik suara sederhana yang menjadi tempat mereka belajar bahwa satu suara memiliki arti.

*Demokrasi Dibangun Jauh Sebelum Hari Pemungutan Suara

Pendidikan demokrasi tidak boleh berhenti pada hafalan tentang pemilu, lembaga negara, atau tata cara pencoblosan.

Demokrasi harus dialami.

Sebab demokrasi yang baik tidak lahir secara tiba-tiba ketika seseorang pertama kali datang ke TPS.

Ia dibangun jauh sebelumnya melalui pengalaman, keteladanan, pembiasaan, dan keberanian untuk menghargai perbedaan.

Dari sinilah pendidikan pemilih yang berkelanjutan dapat dimulai.

Dari ruang kelas.

Dari halaman sekolah.

Dari pemilihan Ketua OSIS.

Dari suara pertama seorang anak yang belajar bahwa pilihannya memiliki arti.

Hari ini mereka memilih pemimpin di sekolah.

Besok mereka akan menentukan arah bangsa melalui suara mereka.

Dan ketika hari itu tiba, semoga mereka tidak hanya tahu cara memilih.

Tetapi juga memahami mengapa pilihan harus dihargai, mengapa proses harus dijaga, dan mengapa demokrasi harus dirawat bersama.**

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *