Kabar baik datang bagi masyarakat Kabupaten Bantaeng, khususnya penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berlokasi di Jalan Gagak, Kelurahan Pallantikang, Kecamatan Bantaeng, resmi kembali beroperasi penuh pada Senin (20/4/2026).
Kembalinya aktivitas dapur ini menandai selesainya proses pembenahan total selama dua pekan, terhitung sejak 6 hingga 18 April 2026.
Fokus utama perbaikan kali ini adalah peningkatan kualitas sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk menjamin standar sanitasi dan kelestarian lingkungan.
Responsif Terhadap Arahan Nasional
Kepala SPPG Gagak menjelaskan bahwa renovasi ini merupakan tindak lanjut serius atas arahan Badan Gizi Nasional (BGN).
BGN pusat telah menekankan pentingnya pengelolaan limbah dapur secara bertanggung jawab sebagai bagian integral dari program gizi nasional.
“Per tanggal 20 Oktober 2026, sistem IPAL telah berfungsi secara optimal dan aktivitas dapur kembali berjalan normal. Kami memastikan tidak ada kompromi dalam hal standar kebersihan,” ujarnya saat dikonfirmasi di lokasi, Kamis (23/4/2026).
Selama masa perbaikan, tim teknis melakukan revitalisasi fisik instalasi hingga tahap uji coba ketat.
Tujuannya untuk memastikan seluruh komponen sistem mampu menyaring dan mengurai berbagai kandungan limbah cair dapur, mulai dari lemak, minyak, sisa makanan, hingga residu deterjen.
Teknologi Filtrasi Ganda: Dari Dapur Hingga Sumur Resapan
Inovasi terbesar dalam pembenahan ini adalah penerapan sistem filtrasi bertingkat. Air limbah dari dapur MBG kini tidak langsung dibuang, melainkan melalui proses pengolahan yang ketat.
Pertama, limbah masuk ke unit pengurai utama untuk memecah kandungan organik dan lemak.
Kedua, air hasil olahan awal akan melewati penyaringan tambahan menggunakan filter air bersih berkualitas tinggi—jenis yang umumnya digunakan pada depot air minum.
Filter ini efektif menyaring partikel tersuspensi halus seperti lumpur, pasir, dan koloid melalui proses filtrasi fisik.

Baru setelah melewati dua tahap penyaringan tersebut, air yang sudah jernih dan aman dialirkan ke sumur resapan.
Langkah konkret ini diambil untuk mencegah segala potensi pencemaran terhadap saluran irigasi dan sumber air tanah di sekitar lokasi SPPG.
Komitmen Gizi dan Lingkungan Berjalan Bersamaan
Dengan beroperasinya kembali sistem IPAL yang telah dimutakhirkan, SPPG Gagak mengirimkan pesan kuat bahwa program pemenuhan gizi tidak boleh mengorbankan kelestarian alam.
“Kami tidak hanya memastikan kelancaran operasional dapur MBG untuk melayani anak-anak dan masyarakat, tetapi juga menunjukkan komitmen nyata terhadap pelestarian lingkungan. Pengelolaan limbah yang terkontrol adalah harga mati,” tegas Kepala SPPG.
Ke depan, SPPG Gagak diharapkan dapat terus menjalankan programnya secara berkelanjutan.
Sinergi antara layanan gizi prima dan tanggung jawab ekologis ini menjadi model percontohan bagi satuan pelayanan gizi lainnya di Indonesia, membuktikan bahwa pembangunan kesehatan dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan.
Masyarakat sekitar pun menyambut baik langkah ini dan mereka merasa lebih tenang bahwa aktivitas dapur umum skala besar tersebut tidak lagi berpotensi mengganggu ekosistem perairan di wilayah Pallantikang.
Sumber: Ansar Politisinusatara
Editor: Redaksi 1nasional.id











