Beranda / Bantaeng / Jeritan dari Desa, Menagih Janji Dua Tahun yang Menguap di Babangeng

Jeritan dari Desa, Menagih Janji Dua Tahun yang Menguap di Babangeng

Siaran Pers
Aliansi Appakatau dan Warga Babangeng
Selasa Malam, 2 Juni 2026

Suasana di depan Kantor Bupati Bantaeng mendadak pecah pada Selasa siang (6 Juni 2026).

Bukan oleh sorak sorai perayaan, melainkan oleh gemuruh amarah dan tangis kekecewaan.

Beberapa perwakilan warga Kampung Babangeng, Desa Pa’bumbungan, Kecamatan Eremerasa, yang tergabung dalam Aliansi Appakatau, tumpah ke jalan.

Mereka datang bukan untuk meminta belas kasihan, melainkan untuk menagih janji manis yang telah kedaluwarsa selama dua tahun.

Akses jalan yang hancur lebur dan yang menjadi urat nadi ekonomi, pendidikan, dan kesehatan, kini berubah menjadi simbol pengabaian pemerintah daerah terhadap masyarakatnya di pelosok desa.

Janji Manis yang Menjadi Debu

Dengan urat leher yang menegang dan mata berkaca-kaca, seorang warga maju ke depan pengeras suara.

Menggunakan bahasa daerah Bantaeng yang sarat akan makna mendalam, ia membongkar kembali memori janji politik dua tahun lalu:

“Ruaang taung janjinna nakua punna nia dallekku, ruang taung paling sallo ni bajiki arunganna Babangennga, kamma-kamma anne nia mo rua tahun tena buttinna”.
(Sudah dua tahun janji itu diucapkan; bahwa jika ada rezeki dan terpilih, paling lambat dua tahun jalan Babangeng akan diperbaiki. Namun sekarang, dua tahun telah berlalu, dan tidak ada satu pun bukti nyata.)

Bagi warga Babangeng, dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk terus bersabar di atas jalanan yang rusak parah.

Janji yang dulunya menjadi angin segar, kini berubah menjadi duri dalam kedagingan aktivitas sehari-hari mereka.

Pemimpin yang Dirindukan, Kehadiran yang Hilang

Kekecewaan massa semakin memuncak ketika mereka menyoroti hilangnya sosok pemimpin setelah kursi kekuasaan berhasil diraih.

Warga merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya ditinggalkan begitu saja di pelosok desa tanpa pernah ditengok lagi.

“Maka pinruanna kedde lebba tonji Bupati anrai kuttanang kua anggura anrai masyarakatku… mingka tanga lebbaki nia selama anjarii Bupati”.
(Andaikan Bupati pernah datang menanyakan kondisi masyarakatnya, mungkin meskipun hanya janji, kami masih bisa menerimanya. Tetapi selama menjabat, beliau tidak pernah lagi hadir melihat kondisi kami).

Kalimat ini menjadi tamparan keras bagi birokrasi.
Ia menggambarkan kerinduan sekaligus luka mendalam masyarakat yang merindukan kehadiran pemimpinnya bukan hanya saat mencari suara, tetapi saat rakyatnya sedang menderita.

“Kami Bukan Kerbau!”: Puncak Keputusasaan Warga

Puncak emosi warga Babangeng saat aksi unjukrasa pecah saat sebuah keputusasaan yang teramat getir dilontarkan.

Sebuah permohonan yang begitu menyayat hati, membandingkan martabat mereka dengan hewan ternak akibat infrastruktur yang tak layak:

“Ku palaki kodong Karaeng, kibajikian tonga anrai a’rungangku na tena mo ku singkamma tedong akkadangkang allo-allo… Punna tena mo ki padulia, kitulisii ri karattasa…”
(Saya meminta kepada Bapak agar memperbaiki jalan kami, supaya kami tidak lagi berjalan dan bersusah payah seperti kerbau setiap hari. Tolong Pak, apakah masih ada kepedulian? Jika memang sudah tidak peduli, tuliskan saja di atas kertas bahwa pemerintah tidak lagi peduli kepada kami, supaya kami tidak terus berharap seperti orang yang menagih utang!).

Mendengar kalimat tersebut, keheningan sempat mencekam di antara massa aksi.
Sebuah pernyataan satire yang memperlihatkan bahwa warga Babangeng sudah berada di titik nadir kesabaran mereka.

Catatan Aliansi Appakatau: Pembangunan Jangan Hanya “Kosmetik” Kota

Aliansi Appakatau menegaskan, tuntutan ini bukan sekadar urusan aspal dan semen. Ini adalah urusan nyawa anak-anak yang ingin ke sekolah, ibu hamil yang bertaruh nyawa menuju puskesmas, dan petani yang urung sejahtera karena ongkos angkut yang mencekik.

Aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Bantaeng ini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Daerah.

Pembangunan sejatinya tidak boleh hanya menjadi “kosmetik” di pusat kota yang gemerlap, sementara masyarakat di pelosok desa harus terseok-seok menyerupai kerbau di kubangan lumpur.

Warga Babangeng kini menunggu:
Apakah hati nurani pemerintah akan terketuk, ataukah jeritan ini hanya akan berlalu ditiup angin?

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *