Meskipun menghadapi kenyataan pahit berupa penurunan drastis alokasi Anggaran Dana Desa (DD) untuk Tahun Anggaran 2026, Pemerintah Desa Bonto Salluang di Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng, menunjukkan komitmen kemanusiaan yang luar biasa.
Pemdes Bonto Salluang secara resmi menegaskan sikap mereka untuk tetap memprioritaskan penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi warganya yang paling membutuhkan.
Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran meluas mengenai dampak pemotongan anggaran dari pemerintah pusat terhadap pembangunan infrastruktur dan program desa lainnya.
Namun, Kepala Desa Bonto Salluang, Marzuki, S.Sos menegaskan bahwa kesejahteraan dasar warga rentan tidak dapat ditawar-tawar.
”Anggaran memang turun drastis, itu kenyataan yang harus kita hadapi. Tapi kita harus ingat, ada warga kita: orang tua, janda, dan mereka yang kurang mampu secara fisik yang bergantung pada bantuan ini untuk kebutuhan pokok. Memotong BLT bukanlah pilihan bagi kami,” ujar Kades Bonto Salluang dalam sebuah wawancara khusus hari ini. Jumat (24/04/2026.
Komitmen Konkret di Tengah Kesulitan
Sikap ‘ngotot’ Pemdes Bonto Salluang ini bukan sekadar retorika.
Foto-foto eksklusif yang didapatkan redaksi menunjukkan proses penyaluran bantuan yang sedang berlangsung.
Dalam salah satu gambar, terlihat perangkat desa yang mengenakan seragam dinas sedang dengan penuh hati-hati melayani seorang lansia pria, sementara seorang ibu lansia lainnya yang mengenakan jilbab oranye sabar menunggu gilirannya.

Bukti komitmen ini semakin kuat dengan adanya spanduk resmi yang terpasang di lokasi acara di Balai Desa Bonto Salluang.

Spanduk besar tersebut bertuliskan: “PENYALURAN BANTUAN LANGSUNG TUNAI (BLT) DANA DESA (DD) TAHUN ANGGARAN 2026 PEMERINTAH DESA BONTO SALLUANG KEC. BISSAPPU KAB. BANTAENG”.
Spanduk ini menjadi bukti sah bahwa program tetap berjalan meskipun di tahun anggaran yang penuh tantangan.
Warga Bernapas Lega
Bagi warga penerima manfaat, keputusan Pemdes Bonto Salluang ini adalah secercah harapan di tengah ketidakpastian ekonomi.
“Kami sudah dengar kabar tentang anggaran desa yang dipotong, dan kami sangat cemas. Tapi alhamdulillah, Pak Desa masih memikirkan kami. Bantuan ini sangat berarti untuk membeli beras dan obat,” tutur seorang penerima BLT dengan nada haru.
Sikap Pemdes Bonto Salluang ini menjadi teladan bahwa di masa sulit, empati dan keberpihakan kepada masyarakat yang paling rentan harus tetap menjadi prioritas utama pemerintah di semua tingkatan.
Langkah ini patut diapresiasi sebagai wujud nyata dari tata kelola pemerintahan yang berhati rakyat.
*(Humas Pemdes Bonto Salluang).
*(Editor: Redaksi 1nasional.id).












