Bunyi mesin bor yang menderu selama tiga hari berturut-turut di Dusun Bontote’ne, Desa Arpal, Kecamatan Arungkeke, akhirnya berganti menjadi suara gemericik yang paling dinanti.
Senin (27 April 2026) pagi itu bukan hari biasa; itu adalah hari di mana dahaga puluhan warga terobati setelah Satgas TMMD ke-128 Kodim 1425/Jeneponto berhasil menembus lapisan tanah hingga kedalaman 20 meter dan menemukan sumber air bersih.
Di tengah hamparan lahan kering yang selama ini menjadi saksi bisu sulitnya akses air bagi warga, momen ketika air pertama kali menyembur dari perut bumi disambut dengan sorak syukur.
Tetesan air jernih itu bukan sekadar cairan hidup, melainkan simbol harapan baru yang mengalir deras bagi masyarakat Dusun Bontote’ne.
Detik-Detik Penemuan: Dari Debu Menjadi Embun
Proses pengeboran yang dimulai sejak tiga hari lalu penuh dengan ketegangan. Setiap meter tanah yang ditembus adalah pertarungan antara harapan dan kecemasan akan kegagalan.
Namun, optimisme tak pernah pudar dari wajah para personel TNI dan warga yang bergantian memantau proses tersebut.

Daeng Bali, operator sumur bor yang memimpin teknis pengeboran, mengaku lega saat indikator menunjukkan adanya cadangan air yang signifikan.
“Ini hari ketiga, dan Alhamdulillah, target kami tercapai. Air sudah ditemukan di kedalaman sekitar 20 meter. Titik ini sangat potensial dan debitnya cukup untuk memenuhi kebutuhan warga sekitar,” ujar Daeng Bali sambil menyeka keringat di dahinya, matanya berbinar melihat air yang mulai keruh kemudian menjernih.
Bagi warga Arpal, temuan ini adalah jawaban dari doa panjang. Karena selama ini, mereka harus menempuh jarak jauh atau bergantung pada sumber air yang tidak menentu, terutama di musim kemarau. Kini, oase kecil telah tercipta tepat di halaman mereka.
Lebih Dari Sekadar Lubang Tanah: Ini Soal Kehidupan
Dansatgas TMMD ke-128 Kodim 1425/Jeneponto, Letkol Inf Abdul Muthalib Tallasa, menyebut keberhasilan ini sebagai salah satu pencapaian paling emosional dalam program TMMD tahun ini.
Baginya, misi membawa air bersih adalah wujud paling nyata dari filosofi TNI sebagai “Sahabat Rakyat”.
“Program ini bukan sekadar pembangunan fisik atau membuat lubang di tanah. Ini adalah bentuk kehadiran TNI di tengah denyut nadi kehidupan masyarakat untuk menjawab kebutuhan paling dasar: air bersih. Tanpa air, aktivitas terhenti; dengan air, kehidupan bangkit kembali,” tegas Letkol Inf Abdul Muthalib.
Ia menjelaskan bahwa pengeboran di Dusun Bontote’ne ini merupakan bagian dari Program Unggulan TNI AD: “TNI Manunggal Air Bersih”.
Program ini dirancang khusus untuk mendeteksi dan mengeksploitasi sumber air tanah di wilayah-wilayah yang secara geografis kesulitan mendapatkan akses air layak.

“Kami berharap sumur ini bukan hanya solusi sesaat, tapi menjadi aset jangka panjang yang meningkatkan kualitas hidup, kesehatan, dan ekonomi warga,” tambahnya.
Lima Titik Harapan di Arungkeke
Keberhasilan di Dusun Bontote’ne hanyalah pembuka. Satgas TMMD ke-128 memiliki peta misi yang jelas untuk mengatasi krisis air di Kecamatan Arungkeke.
Secara total, ada lima titik pengeboran yang sedang dan akan dikerjakan:
– Dua titik di Dusun Bontote’ne (satu di antaranya baru saja berhasil).
– Dua titik di Dusun Arungkeke.
– Satu titik di Dusun Rappo-rappo.
Semua lokasi ini diprioritaskan berdasarkan tingkat urgensi kebutuhan warga dan potensi hidrologis tanah.
Pesan Dansatgas: “Jagalah Bersama, Nikmati Bersama”
Di balik euforia penemuan air, Letkol Inf Abdul Muthalib menyelipkan pesan penting tentang keberlanjutan.
Ia mengingatkan bahwa fasilitas yang dibangun dengan keringat bersama ini adalah milik kolektif.
“Apa yang sudah dibangun ini adalah milik bersama. Kunci agar manfaatnya terus dirasakan adalah kebersamaan. Jaga kebersihan lingkungan sumur, rawat pompanya, dan kelola penggunaannya dengan bijak. Sinergi TNI dan masyarakat yang terbangun selama TMMD harus tetap hidup bahkan setelah kami pergi,” pesan Dansatgas TMMD 128 Jeneponto.
Ia juga optimis bahwa semangat yang muncul dari keberhasilan di Bontote’ne akan menjadi bahan bakar bagi percepatan pengerjaan di empat titik lainnya.
“Semangat gotong royong adalah energi utama kami. Kami optimis seluruh target tercapai tepat waktu berkat dukungan semua pihak,” tutupnya.
Simbol Baru Kehidupan
Air yang kini mulai mengalir di Dusun Bontote’ne membawa cerita baru bagi Desa Arpal.
Ia menghapus narasi kekeringan dan menggantinya dengan narasi ketahanan dan harapan.
Di Jeneponto, TMMD ke-128 membuktikan bahwa ketika tentara dan rakyat bersatu, bahkan tanah yang paling keras pun bisa melahirkan sumber kehidupan.
(Aries)












