Kondisi ruang kebebasan berpendapat di Kabupaten Bantaeng tengah mendapat sorotan tajam.
Pasca insiden pembubaran paksa aksi mahasiswa, iklim demokrasi di daerah berjuluk Butta Toa ini dinilai sedang mengalami kemunduran serius dan berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
Menyikapi fenomena tersebut, Demisioner Sekretaris Cabang Jalarambang HPMB-Raya, Jabal Nanring, angkat bicara.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa dan pemuda sejatinya hadir sebagai mitra kritis dan kontrol sosial terhadap jalannya roda pemerintahan.
Oleh karena itu, setiap aspirasi dan kritik yang lahir dari rahim perjuangan mahasiswa seharusnya dijawab dengan ruang dialog dan solusi nyata, bukan justru direspons dengan tekanan fisik maupun psikologis.
“Demokrasi yang sehat itu bukan demokrasi yang hanya menerima pujian. Demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang mampu mendengar kritik, meskipun pahit,” ujar Jabal Nanring dalam keterangan tertulisnya, Jumat (29/05/2026).
Alarm Serius: Munculnya Pola Premanisme
Jabal menilai, munculnya tekanan struktural maupun intimidasi terhadap gerakan mahasiswa belakangan ini menjadi alarm bahaya yang sangat serius.
Jika pola pembungkaman ini dibiarkan tumbuh subur, ia khawatir akan lahir rasa takut masif di tengah-tengah masyarakat untuk menyuarakan kebenaran.
“Kalau hari ini mahasiswa mulai ditekan karena bersuara, lalu rakyat takut menyampaikan keresahannya, maka itu tanda demokrasi sedang tidak baik-baik saja,” tegasnya secara lugas.
Lebih lanjut, Jabal menyoroti adanya dugaan praktik intimidasi dan pola-pola premanisme yang mulai menyusup dalam dinamika sosial-politik di Bantaeng.
Terkait hal ini, ia meminta dengan tegas agar aparat penegak hukum bertindak netral, tidak menutup mata, dan berdiri kokoh sebagai pelindung seluruh lapisan masyarakat tanpa terintervensi oleh kepentingan politik tertentu.
“Negara tidak boleh kalah oleh tekanan kelompok-kelompok yang mencoba membungkam kritik. Aparat harus hadir menjaga ruang demokrasi tetap aman dan sehat,” kata Jabal.
Kritik Lahir dari Rasa Cinta pada Bantaeng
Sebagai kader HPMB-Raya, Jabal mengingatkan jajaran pemerintah daerah bahwa organisasi mahasiswa bukanlah musuh ataupun ancaman bagi jalannya pemerintahan.
Sebaliknya, setiap gerakan moral dan aksi turun ke jalan yang dilakukan oleh mahasiswa lahir dari rasa cinta yang mendalam terhadap kemajuan daerah.
“Kami mengkritik karena peduli. Kami bersuara karena cinta terhadap Bantaeng. Jangan pernah memandang kritik sebagai ancaman, sebab kritik adalah bentuk perhatian rakyat kepada daerahnya,” tambahnya.
Di akhir penyampaiannya, Jabal Nanring mengajak seluruh elemen masyarakat Bantaeng untuk bahu-membahu menjaga iklim demokrasi agar tetap terbuka, sehat, dan beradab.
Ia menekankan bahwa perbedaan pandangan adalah hal yang lumrah dan tidak boleh dibalas dengan intimidasi atau kebencian.
“Bantaeng ini milik bersama. Demokrasi harus dijaga bersama. Jangan biarkan ruang berpikir dipersempit hanya karena ada pihak yang takut dikritik,” pungkas Jabal secara diplomatis.












