Keindahan Tebing Apparalang di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, seketika berubah menjadi duka mendalam.
Insiden fatal yang merenggut nyawa seorang pengunjung wanita akibat terjatuh ke laut lepas memicu gelombang protes keras.
Tragedi memilukan ini dinilai menjadi bukti nyata bobroknya sistem pengawasan dan standarisasi keselamatan di salah satu destinasi wisata unggulan tersebut.
Merespons kejadian ini, Ketua Cabang Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Bulukumba angkat bicara dan mengecam keras nihilnya fasilitas keselamatan di lokasi.
Retribusi Ditarik, Keselamatan Diabaikan?
SEMMI Bulukumba menyoroti adanya ketimpangan besar antara kewajiban pengunjung dan tanggung jawab pemerintah daerah.
Setiap wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata di Bulukumba dipungut retribusi tiket masuk, namun fasilitas keamanan (safety) dan keberadaan tim penyelamat (life guard) di lokasi justru luput dari perhatian.
“Mengingat adanya pungutan retribusi tiket masuk pada setiap destinasi wisata di Kabupaten Bulukumba, sudah seharusnya pemerintah daerah berkewajiban menyediakan fasilitas keselamatan yang memadai,” tegas pihak SEMMI Bulukumba melalui keterangan tertulis resmi pada Minggu, 7 Juni 2026.
Oleh karena itu, SEMMI mendesak pemerintah untuk segera melakukan pembenahan total dengan menempatkan tim penyelamat di setiap objek wisata guna mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan.
Tuntut Tanggung Jawab Penuh Disparpora
Duka yang ditinggalkan akibat insiden ini diharapkan tidak hanya berlalu begitu saja sebagai angka statistik.
SEMMI Cabang Bulukumba mendesak agar peristiwa ini menjadi bahan evaluasi serius dan menyeluruh bagi Pemerintah Kabupaten Bulukumba, khususnya Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora).
Pemerintah daerah dituntut untuk bertanggung jawab penuh terhadap keluarga korban.
Pasalnya, hilangnya nyawa pengunjung di kawasan wisata resmi ini dinilai sebagai bentuk kelalaian fatal pemerintah dalam menjamin keselamatan publik yang berlibur di wilayah mereka.
Kini, bola panas ada di tangan Disparpora Bulukumba.
Apakah kenyamanan dan nyawa wisatawan akan mulai diprioritaskan, ataukah retribusi akan terus berjalan di atas bayang-bayang ancaman keselamatan?
*(Andy Dika).



