Dunia pergerakan mahasiswa di Sulawesi Selatan kembali dinodai oleh aksi kekerasan dan tindakan represif oknum korporasi.
Insiden berdarah menimpa seorang kader Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Cabang Gowa yang dilaporkan dihantam menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) saat tengah menyuarakan aspirasi di kawasan PT KIMA (Kawasan Industri Makassar).
Aksi brutal ini memantik gelombang kecaman keras dari berbagai daerah. Salah satunya datang dari Ketua Umum Pengurus Cabang (PC) SEMMI Bantaeng, Tiwa Jalapala.
Dengan nada geram, Tiwa mengutuk keras tindakan barbar tersebut dan menilai bahwa kekerasan fisik terhadap mahasiswa adalah potret mundurnya ruang demokrasi di Indonesia.
“Kami mengutuk keras tindakan barbar dan represif oknum PT KIMA terhadap saudara kami, kader SEMMI Gowa. Menghantam mahasiswa yang sedang menyuarakan aspirasi dengan APAR adalah tindakan pengecut yang mencederai nilai kemanusiaan,” ujar Tiwa Jalapala dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/05/2026).
Pernyataan Sikap dan 3 Tuntutan Tegas PC SEMMI Bantaeng
Menyikapi insiden yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan ini, PC SEMMI Bantaeng tidak tinggal diam. Mereka secara resmi merilis pernyataan sikap dan melayangkan tiga tuntutan krusial:
* Kecam Total Kebrutalan PT KIMA: Mengutuk segala bentuk kekerasan, intimidasi, dan tindakan represif fisik yang dilakukan oleh pihak PT KIMA terhadap kader SEMMI Gowa.
* Desak Penangkapan Segera: Mendesak Kapolrestabes Makassar untuk segera menangkap, menahan, dan memproses hukum pelaku pemukulan menggunakan APAR tersebut secara transparan tanpa ada yang ditutupi.
* Solidaritas Tanpa Batas: Menegaskan solidaritas penuh dari PC SEMMI Bantaeng untuk bersama-sama mengawal kasus hukum ini hingga tuntas, sampai pelaku menerima hukuman yang setimpal.
Warning Bagi Penegak Hukum: Potensi Gelombang Protes Besar
Kasus ini kini menjadi ujian bagi profesionalitas aparat kepolisian di Makassar.
Tiwa Jalapala dengan tegas mengingatkan aparat penegak hukum agar tidak main-main dalam menangani perkara ini.
Ia menegaskan bahwa kelambatan sekecil apa pun dalam proses hukum hanya akan menjadi bahan bakar yang memicu perlawanan lebih masif.
Jika pelaku tidak segera diringkus, SEMMI se-Sulawesi Selatan dipastikan akan turun ke jalan menggelar aksi solidaritas dengan gelombang massa yang jauh lebih besar.
Hingga berita ini diturunkan, pihak korban tengah melakukan koordinasi hukum, sementara publik menanti respons cepat dan ketegasan dari Polrestabes Makassar untuk menyeret pelaku ke meja hijau.
(Narasumber: Tiwa Jalapala).












